Kekuatan Indonesia Hadapi Ancaman Resesi Ekonomi 2020

Jakarta, CNN Indonesia — Sejumlah negara telah masuk ke jurang resesi ekonomi. Suatu negara disebut mengalami resesi ekonomi apabila mencatat kontraksi pertumbuhan ekonomi selama dua kuartal berturut-turut.

Sebut saja, Jerman yang mengalami pertumbuhan ekonomi minus 0,1 persen di kuartal IV 2019 dan minus 2,2 persen di kuartal I 2020. Lalu, Prancis mencatat minus 0,1 persen di kuartal IV 2019. Pertumbuhan ekonomi Prancis makin jeblok di kuartal I 2020 yakni minus 6 persen.

Kondisi serupa terjadi di negara Asia, yakni Hong Kong pertumbuhan ekonomi Hong Kong mengalami kontraksi 3 persen pada kuartal IV 2019. Kemudian, terperosok makin dalam ke posisi minus 8,9 persen di kuartal I 2020.

Indonesia, terbilang masih beruntung karena belum mengalami kontraksi ekonomi. Bahkan, saat sederet negara mencatat pertumbuhan ekonomi minus di kuartal I 2020 akibat covid-19, ekonomi Indonesia masih positif 2,97 persen.

Namun, angka itu merosot dari sebelumnya 5,07 persen di kuartal I 2019 maupun 4,97 persen di kuartal IV 2019. Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengatakan Indonesia memiliki sejumlah kekuatan yang menyokong pertumbuhan ekonomi.

Paling utama, kata dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia mayoritas disumbang oleh konsumsi rumah tangga. Pada kuartal I 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kontribusi konsumsi rumah tangga kepada pertumbuhan ekonomi sebesar 58,14 persen.

Ini berbeda dengan sejumlah negara tetangga yang ekonominya bergantung kepada perdagangan internasional, misalnya Singapura.

“Kalau melihat kekuatan tentunya lebih banyak bertumpu pada konsumsi masyarakat yang cukup dominan dalam struktur perekonomian,” katanya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (24/6).

Lebih lanjut, Indonesia diuntungkan dengan demografi penduduk produktif. Ia menuturkan kurang lebih 90 juta penduduk masuk kategori milenial produktif sehingga bisa mendukung ketahanan ekonomi.

Wujud produktivitas itu, lanjutnya, adalah lahirnya inovasi digital saat imbauan physical distancing (jarak fisik) selama pandemi. Anak-anak muda Indonesia langsung berinovasi dengan mempercepat transformasi digital sehingga pertumbuhan sektor e-commerce naik signifikan.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memang telah menyatakan bahwa Indonesia akan mengalami bonus demografi. Pada 2030 mendatang, usia produktif 15-64 tahun diperkirakan mencapai 200 juta orang.

Jumlah tersebut mewakili 68 persen dari total populasi Indonesia. Sedangkan, angkatan tua usia 65 tahun ke atas hanya sekitar 9 persen.

“Jadi demografi dengan usia muda lebih agile. Bisa dibandingkan dengan negara yang dominan lansia, lebih berharap pada jaminan sosial dan subsidi negara,” tuturnya.

Terakhir, Bhima menilai Indonesia masih bisa mengandalkan sektor pertanian untuk menyerap sementara tambahan pengangguran akibat pandemi. Faktanya, banyak pekerja yang mengalami PHK di kota bermigrasi ke pedesaan, lalu sebagian dari mereka memilih untuk bertani.

“Tren penyerapan di sektor pertanian ini yang perlu dipertahankan sehingga ada buffer atau bantalan krisis di sektor yang sifatnya formal,” ucapnya.

Jumlah tersebut mewakili 68 persen dari total populasi Indonesia. Sedangkan, angkatan tua usia 65 tahun ke atas hanya sekitar 9 persen.

“Jadi demografi dengan usia muda lebih agile. Bisa dibandingkan dengan negara yang dominan lansia, lebih berharap pada jaminan sosial dan subsidi negara,” tuturnya.

Terakhir, Bhima menilai Indonesia masih bisa mengandalkan sektor pertanian untuk menyerap sementara tambahan pengangguran akibat pandemi. Faktanya, banyak pekerja yang mengalami PHK di kota bermigrasi ke pedesaan, lalu sebagian dari mereka memilih untuk bertani.

“Tren penyerapan di sektor pertanian ini yang perlu dipertahankan sehingga ada buffer atau bantalan krisis di sektor yang sifatnya formal,” ucapnya.

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200624204158-532-517136/kekuatan-indonesia-hadapi-ancaman-resesi-ekonomi-2020

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments