Potensi kekayaan intelektual di Matim,NTT harus didaftar ke HKI

Bupati Manggarai Timur (Matim), NTT, Andreas Agas. Sumber: Humas Matim

 

Lensahati.com. Kabupaten Manggarai Timur (Matim), provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki potensi kekayaan intelektual komunal dan personal yang sangat beragam dan harus dilindungi.

Masyarakat harus selalu diingatkan untuk melindungi kekayaan intelektual dalam bentuk budaya, makanan, tarian atau apapun yang dimiliki, sehingga tidak mudah diambil dan diakui oleh orang lain yang tidak berhak.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala bidang Pelayanan Hukum Kanwil Kemenkumham Perwakilan NTT, Erni Mamo Li, dalam kegiatan workshop dan diseminasi tentang Hak Kekayaan Intelektual (HKI), bertempat di Ruang Rapat Bupati Manggarai Timur, Jumat (20/3).

“Kegiatan itu pertama kali dilaksanakan di Kabupaten Manggarai Timur dan akan menjadi agenda rutin Kemenkumham Perwakilan NTT,” kata Erni.

“Kekayaan-kekayaan budaya itu harus didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual Manggarai Timur. Supaya orang diluar Manggarai Timur tidak mengakui ini sebagai kekayaan mereka,”

Workshop tersebut mengusung tema Urgensi Pendaftaran Kekayaan Intelektual untuk Menikmati Manfaat Ekonomi diselenggarakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Perwakilan NTT dan Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur.

Sementara itu Bupati Manggarai Timur, Andreas Agas, dalam sambutannya mengatakan bahwa pengembangan HKI merupakan salah stau program penting yang dikembangkan pemerintah untuk memenangkan persaingan ekonomi global.

Menurutnya HKI berperan dalam memberikan perlindungan hukum atas kekayaan intelektual baik komunal maupun personal yang berbasis ekonomi kreatif.

“Kekayaan intelektual merupakan hasil pola pikir manusia untuk menghasilkan produk barang yang berguna untuk banyak orang,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, untuk menghasilkan sebuah produk atau karya, membutuhkan sebuah proses berpikir yang harus dihargai dan salah satu bentuk penghargaannya adalah dengan mendaftarkannya sebagai HKI, disahkan sebagai sebuah hak milik. Sehingga dikemudian hari tidak bisa diklaim oleh orang lain, tambahnya.

Selanjutnya, kata dia, yang menjadi tugas Pemda dan masyarakat Matim adalah melakukan inventarisir dan pendataan terhadap kekayaan intelektual yang ada dimasyarakat.

“Manggarai Timur punya banyak sekali bentuk dan jenis kekayaan intelektual. Matim punya tenun Lambaleda, kain tenun punca titi Congkar, kain tenun Rembong, ritual Khebu di Kota Komba dan songkok Rajong,” ungkapnya.

Dikatakan, kekayaan-kekayaan budaya itu harus didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual Manggarai Timur. “Supaya orang diluar Manggarai Timur tidak mengakui ini sebagai kekayaan mereka,” tegasnya.

Disampaikannya, pada tahun 2021 ini Matim sedang mengembangkan potensi pariwisata berbasis masyarakat. Karenanya Bupati Matim itu menekankan masyarakat Matim harus memiliki kesadaran untuk melindungi dan menjaga warisan budaya yang ada.

“HKI bukan hanya untuk melindungi kekayaan intelektual dan kemudian mendapatkan manfaat ekonomi dari sana, tetapi yang utama juga adalah mewariskan kekayaan dan kebanggaan akan budaya Manggarai Timur kepada generasi penerus,” tutupnya.

Turut hadir dalam kegiatan ini Ketua dan Wakil Ketua TP PKK Kab. Matim yang juga adalah Ketua dan Wakil Ketua Dekranasda Matim, Pimpina OPD dan jajaran serta tokoh agama dan tokoh masyarakat di Matim.

(Yos Syukur)

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x