Kapolda NTT Minta Semua Pihak Bersinergi Cegah Bencana Alam

 

Apel Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Alam dan Pengendalian Karhutla bertempat di Lapangan Utama Mapolda NTT, Senin,(22/3). Sumber: Biro Administrasi Pimpinan Setda Pemprov NTT

 

Lensahati.com-Kupang. Semua komponen harus bersinergi dalam rangka mengantisipasi dan menghadapi bencana alam dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Perlu sinergitas yang tinggi antara komponen TNI, Polri, BPBD, Basarnas serta Pemerintah Daerah dan masyarakat.

Hal itu disampaikan oleh Kapolda NTT Irjen Pol Lotharia ketika memberikan sambutan dalam upacara Apel Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Alam dan Pengendalian Karhutla bertempat di Lapangan Utama Mapolda NTT, Kupang, yang diikuti oleh TNI, Polri, BMKG, BPBD, Basarnas, Instansi Pemerintah Provinsi NTT Terkait. Turut hadir pula Wakil Gubernur NTT. Josef A. Nae, Soi, Senin (22/3).

“Dengan kegiatan ini, diharapkan dapat dilakukan pengecekan kesiapsiagaan personil dan sarana pra sarana yang dimliki. Sehingga kesiapsiagaan penanggulangan bencana dari semua komponen dapat bersinergi mewujudkan output adanya kesiapan dalam menghadapi situasi bencana alam yang kemungkinan terjadi di Provinsi NTT,” ujar Kapolda NTT melalui keterangan tertulis, Selasa.

Ia mengatakan, Bencana alam dan kebakaran hutan kemungkinan besar masih terus terjadi baik di darat dan laut. Harus ada kesiapsiagaan bersama dalam mengantisipasi untuk mencegah adanya korban jiwa dan kerugian materil, serta kerusakan ekosistem,” tambahnya.

Kapolda NTT itu menjelaskan, kondisi NTT dalam beberapa tahun terakhir juga dilanda bencana. Diantaranya tahun 2019, bencana banjir yang mengakibatkan 165 buah rumah terendam banjir, satu bangunan sekolah dan Kantor Bupati Sumba Tengah rusak akibat angin kencang. Tahun 2020 terdapat ada empat desa terendam banjir, rumah warga rusak dan ruas jalan putus akibat tanah longsor, dan 36 rumah rusak akibat angin kencang dengan satu korban jiwa. Juga gelombang laut yang mengakibatkan tenggelamnya kapal di Manggarai barat dan Alor, jelasnya.

Ia menambahkan, adapun juga tahun 2021 terdapat 20 kejadian bencana alam diantaranya banjir dengan sembilan kejadian dengan 270 rumah dan 80 Ha sawah terendam banjir. Kemudian lima kejadian tanah longsor, salah satunya di Kota Kupang yang mengakibatkan dua orang meninggal dunia, serta angin puting beliung dengan enam kejadian masing-masih di Sumba barat, Alor dan Rote Ndao.

Kapolda Latif juga mengatakan data kebakaran hutan di NTT periode tahun 2019 seluas 139.920 Ha dan tahun 2020 yang terbakar seluas 114.719 Ha. Serta Wilayah NTT yang memiliki cuaca ekstrem yaitu musim kemarau lebih lama dari musim hujan yang menyebabkan kekeringan dibeberapa tempat.

Kapolda Lotharia Latif menegaskan sesuai arahan Bapak Presiden RI tentang antisipasi Karhutla dan bencana alam di Indonesia yang disampaikan pada acara Rakornas Pengendalian Karhutla pada tanggal 22 Februari 2021 untuk diperhatikan beberapa hal seperti. Pencegahan diprioritaskan dengan deteksi dini, pemantauan di area rawan (titik api), infrastruktur pemantauan dan pengawasan harus sampai ditingkat bawah.

“Presiden juga meminta agar unsur Pemerintahan, Polri dan TNI juga terus mensosilisasikan pencegahan karhutla dan siap siaga bencana pada masyarakat. Semua pihak harus mencari solusi yang permanen untuk tahun-tahun ini dan selanjutnya. Kemudian pastikan juga permukaan air tanah dijaga dalam kondisi tinggi dan baik serta penegakan hukum dilakukan tanpa kompromi,” tutupya.

(Yos Syukur)

2 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x