Pengakuan nelayan pembom ikan di TNK Mabar

Bahan yang digunakan untuk membom ikan di TNK. Foto: Polres Mabar

 

Lensahati.com-Manggarai Barat. Kepala Kepolisian Resort Manggarai Barat, Polda NTT, AKBP Bambang Hari Wibowo melalui Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Reskrim) Iptu Yoga Dharma Susanto membeberkan pengakuan pembom ikan di Taman Nasional Komodo (TNK).

Ia menjelaskan, menurut pengakuan salah satu pelaku yang merupakan juragan Kapal berinisial ED (27) bahwa bahan peledak tersebut berupa pupuk yang diduga pupuk jenis Urea sebanyak satu karung berukuran 20 Kg.

Pupuk tersebut, kata Yoga dibeli para pelaku dengan harga Rp 1 juta. Sedangkan detonator sebanyak 50 buah dengan harga Rp 1,5 juta.

Dijelaskanya, mereka mendapat barang tersebut dari salah satu nelayan berinisial MO warga Bajo Pulau, Desa Bajo Barat, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), sekitar akhir bulan Maret 2021.

“Keseluruhan bahan peledak berupa pupuk dan detonator dan kelengkapan lainnya berjumlah 40 buah. Bahan-bahan tersebut dikemas dalam botol bir bintang ukuran 620ml dan sebagian dikemas dengan botol plastik bekas oli mesran ukuran lima liter dan satu liter,” ungkap Yoga.

Ia menguraikan, masing–masing sebanyak satu botol, dalam kemasan oli Yamalube ukuran 0,8 liter sebanyak empat botol, dalam kemasan Botol Oli MOX2 warnah putih ukuran 1,2 liter sebanyak dua botol.

”Sedangkan dalam kemasan Botol Bir Bintang ukuran 620ml sebanyak 24 botol dan detonator sebanyak 20 buah,,” urainya.

Pelaku ED (27) juga, lanjut dia, mengakui bahwa sebagian hasil dari penangkapan ikan menggunakan bahan peledak rakitan yang digunakan sejak hari Rabu (07/04/2021) sampai dengan Kamis (08/04/2021) di Lokasi Perairan Pulau Gili Banta telah dijual oleh Pelaku kepada nelayan berinisial HY, dan untuk dijual di Pasar Sape, Kecamatan Sape, Bima, NTB.

“Biasanya hasil yang diperoleh dari pengeboman ikan menggunakan handak rakitan rata–rata sebesar Rp 5 juta. Bahkan kegiatan mereka selama empat hingga tujuh hari mendapt keuntungan yang lebih besar,” ungkap Yoga.

Ia menambahkan, dari uang yang diperoleh tersebut pelaku ED (27) sebagai juragan dan pemilik kapal mendapat bagian 50% sedangkan sisanya sebesar 50% lagi diberikan kepada Anak Buah Kapal (ABK).

Alumni AKPOL angkatan 2016 ini, mengungkapkan saat di Tempat Kejadian Perkara (TKP) terdapat tiga terduga pelaku pengguna bahan peledak rakitan lainnya yang melarikan diri setelah kelima pelaku ditangkap Tim Patroli Gabungan. Untuk ketiga terduga pelaku sudah ditetapkan masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

“Ketiga pelaku berinisial MO sebagai nelayan dan pemasok bahan peledak, HJ dan NM, keduanya berprofesi sebagai nelayan. Para pelaku juga berasal dari Bajo Pulau, Desa Bajo Barat, Kecamatan Sape, NTB,” ungkapnya.

Diberikatan sebelumnya Polres Manggarai Barat, Polda NTT menangkap dan mengamankan lima orang nelayan tersebut berasal dari Bajo Pulau, Desa Bajo Barat, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima, provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kelima nelayan tersebut terindentifikasi berinisial ED (27), IM (26), YI (16), RR (15) dan YN (15).

Kelima nelayan tersebut diduga menangkap ikan dengan menggunakan bom rakitan di perairan Kawasan Taman Nasional Komodo (TNK), Sabtu (10/04/2021).
(YS)

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x