Gubernur NTT Ajak BPOM Riset Obat Hepatitis C dari Tanaman Faloak

Gubernur NTT, Viktor B.Laikodat ketika menerima audiensi dari  Kepala Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) NTT, Tamran Ismail, di ruang kerja Gubernur, Rabu (17/03).  Sumber: Biro Humas dan Protokol Setda Pemprov NTTGubernur NTT, Viktor B.Laikodat ketika menerima audiensi dari Kepala Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) NTT, Tamran Ismail, di ruang kerja Gubernur, Rabu (17/03). Sumber: Biro Humas dan Protokol  Setda Pemprov NTT

 

LENSAHATI.COM, KUPANG–Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat mengajak BPOM NTT bersinergi terkait fasilitasi pengembangan riset faloak untuk menyembuhkan penyakit hepatitis C dan ijin edar sophia dalam negeri.

Hal itu disampaikannya ketika menerima audiensi dari Kepala Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) NTT, Tamran Ismail, di ruang kerja Gubernur, Rabu (17/03).

“Tentunya ini keuntungan bagi NTT dalam berkontribusi bagi negara untuk mengatasi penyakit tersebut,”

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur NTT mengatakan, saat ini Tim peneliti sementara melakukan penelitian tentang faloak. Untuk itu (BPOM,red) diharapkan dapat memback up atau mendukung riset tersebut.

Selanjutnya, kata dia, pemerintah bersama masyarakat mengembangkan tanaman tersebut, karena bermanfaat untuk penyembuhan penyakit hepatitis C yang sampai saat ini belum ada vaksinnya.

“Tentunya ini keuntungan bagi NTT dalam berkontribusi bagi negara untuk mengatasi penyakit tersebut,” kata Gubernur NTT, melalui rilis Biro Humas dan Protokol yangSetda Pemprov NTT yang diterima Lensahati.com, Jumat 19 Maret 2021.

Sedangkan terkait Sophia, Gubernur NTT menegaskan, Sophia saat ini telah mendapatkan ijin laboratorium layak konsumsi.

“Tinggal proses administrasi ijin edar khusus minuman hasil fermentasi produk lokal dimana prosedurnya lintas kementrian termasuk badan POM RI, tentunya pak Amran bersama tim kami untuk dapat mewujudkannya”, ujarnya.

 Selanjutnya gubernur NTT itu mengungkapkan sejumlah fakta terkait minuman lokal hasil fermentasi yang dikemas menjadi sebuah brand dan bernilai ekonomi.

“Dalam mengkonsumsi minuman tersebut, kami akan atur peredarannya agar tidak mengakibatkan mabuk karena konsumsi yang berlebihan. Untuk itu perlu tata kelola dan tata niaga untuk pengembangan minuman Sophia di NTT dan Indonesia,” tegas Viktor.

Sementara itu Kepala Balai POM NTT menyambut baik harapan Gubernur terkait Pengembangan Faloak dan Sophia serta memfasilitasi sejumlah UMKM yang tersebar di kabupaten dan Kota di NTT.

“Bapak Gubernur, prinsipnya kami siap bersinergi dalam memfasilitasi kepentingan daerah sesuai dengan regulasi yang ada,” ungkapnya.

Sedangkan terkait perijinan, kata dia, saat ini sudah ada sistem OSS (Online Single Submission) sehingga dalam proses registrasi, data mesti terkoneksi dan konsisten agar tidak terjadi penolakan yang menyebabkan pengulangan tahapan proses pengurusan ijin.

(Yos Syukur)

 

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x