Petronela, Lansia Penderita Kanker Kulit di Manggarai Timur

Bhabinkamtibmas Desa Biting saat mengunjungi Lansia Penderita Kanker, Petronela. Foto/Lensahati.com.

 

LENSAHATI.COM, MANGGARAI TIMUR– Petronela Dan, 71 tahun, warga Kampung Taga, Kelurahan Tiwu Kondo, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diduga mengidap penyakit kanker kulit di pipi sebelah kiri. Belasan tahun penyakit tersebut bersarang di pipinya.

Ketika sedang sendirian nenek Petronela sering merenung. Tatapan matanya kosong. Sesekali ia menunduk, menarik nafas dan meneteskan air mata. Perjuangan masa mudanya terlukis indah dalam kerutan wajahnya yang ramah. Di pipi bagian kirinya ada sesuatu yang muncul seperti jamur. Ukuranya hampir memenuhi seluruh bagian pipinya.

Semula, pipi kirinya ditumbuhi bintik hitam, lalu berubah seperti jerawat. Lambat laun bintik kecil itu membesar dan menjadi seperti bisul. Diobati namun tidak sembuh. Lama kelamaan membesar dan muncul daging-daging kecil yang bernanah.

Suaminya, Yohanes Amis diinformasikan mengidap penyakit asma dan gangguan paru-paru. Demi bertahan hidup, keduanya mengabaikan kondisi yang sedang mereka alami.

Meskipun sakit, mereka terpaksa tetap bekerja kebun untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Hasil kebun seperti pisang, kemiri dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Petronela dan Yohanes memiliki tiga orang anak. Dua orang anak laki-laki mereka sudah berkeluarga. Sedangkan yang perempuan sudah menikah dan memiliki seorang anak.
Namun beberapa tahun silam anak perempuan mereka ditinggal pergi oleh suaminya. Anak perempuan itulah yang kemudian turut membantu memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Kondisi ekonomi keluarga Nenek Petronela dan anak-anaknya sangat pas-pasan. Hanya cukup untuk bertahan hidup. Kondisi inilah yang membuat nenek Petronela dan Yohanes pasrah keadaan mereka.

Nenek Petronela tidak pernah tidur nyenyak. Selain karena sakit yang dideritanya. Kondisi sang suami yang mengidap asma dan paru-paru juga membuatnya kadang jarang tidur. Meski jarang tidur namun perempuan tua renta itu bersama suaminya tetap berkebun di pagi hari. 

Merek jarang sarapan pagi. Segelas air putih sudah cukup menjadi sarapan mereka di pagi hari sebelum berangkat ke kebun. Selanjutnya, ketika sampai di kebun, mereka akan merebus ubi dan pisang untuk dimakan seadanya.

Nenek Petronela sangat menderita, ketika tidur, kulit dan daging yang ada di pipinya perlahan terlepas dan bernanah. Bahkan ulat-ulat kadang muncul dari luka yang dideritanya.

Kendati demikian, perempuan renta itu tetap menjalankan aktifitasnya seperti biasa. Namun kadang nenek Petronela hanya diam, merintih, menangis, yang menjadi obat penenang ketika rasa sakit itu menimpanya. Ia lebih banyak diam. Karena ketika ia berbicara, maka daging-daging berukuran kecil akan jatuh dari pipinya.

Kondisi ekonomi yang parah membuat nenek Petronela bersama suaminya Yohanes Amis tidak bisa berbuat apa-apa.Kadang ada keluarga atau warga sekitar mengantar beras untuk mereka. Tenaga kesehatan dengan sukarela mengantar obat. Meskipun kondisi nenek Petronela dan suaminya sakit, namun mereka tetap bersyukur kepada sang empunya hidup. Karena Tuhan membantu mereka melalui orang lain.

Rumah yang mereka tempati berukuran kecil, beratap seng, berlantai tanah. Dindingnya terbuat dari pelepah bambu. Tidak ada kursi ataupun meja. Tempat tenda terbuat dari pelupuh bambu merupakan tempat untuk tamu. Tempat itu pun beralaskan tikar yang lapuk dan usang.

Kunjungan Bripka Sukiman

Kabar dan cerita tentang Petronela Dan bersama suaminya Yohanes Amis sampai ke telinga Bhabinkamtibmas Desa Biting, Bripka Sukiman.  Pihak Puskesmas setempat hanya bisa memberikan pengobatan seadanya saja. Kondisi dan keadaan yang mereka miliki membantu pengobatan nenek Petronela dan suaminya Yohanes Amis. 

Pertama berkunjung ke rumah nenek Petronela, Bripka Sukiman sangat sedih dan prihatin. Hatinya tidak tega melihat kondisi mereka. Ia kemudian memberikan bantuan seadanya dan berusaha untuk mencari dan menghubungi orang-orang yang peduli dengan keadaan mereka.

Sambil menunggu bantuan, Bripka dengan kemampuannya selalu setia membawakan bantuan sembako kepada keluarga nenek Petronela Dan.

Dikatakan, Dokter dan petugas kesehatan setempat datang untuk melihat kondisi Nenek Petronela. Menurut dokter yang bertugas di puskesmas, nenek Petronela mengidap kanker kulit. Mereka beri obat seadanya, ungkap Bripka Sukiman, ketika dikonfirmasi melalui gawainya, Selasa (16/3).

“Saya tidak tega melihat keadaan ibu Petronela dan keluarganya. Sedih juga. Semoga ada orang lain yang baik hati yang akan membantu keluarga ini. Saya hanya bisa bantu seadanya,” ujarnya dengan suara serak

Nenek Petronela didatangi Bhabinkamtibmas. Foto/Lensahati.com.

.

Ia mengisahkan, setiap kali bertemu nenek Petronela, ia selalu meneteskan air mata. Meski belasan tahun menderita kanker kulit, nenek itu tetap kuat, sabar dalam menghadapi penderitaannya.

Bripka  Sukiman menerangkan, kalau nenek itu berbicara maka daging daging kecil di pipi kirinya itu akan  badanjatuh dan badanyapun sudah semakin kurus. Kondisi mereka sangat memprihatinkan”, ujarnya penuh sedih.

“Nenek Petronela terlihat lelah dengan kondisi yang dialaminya. Nenek itu sepertinya pasrah dengan keadaannya. Entah siapa yang akan membantu. Semoga mereka segera dibantu oleh orang yang peduli dengan kondisi mereka,” ungkapnya.

Bripka Sukiman, meminta kepada para penderma yang sedianya bisa membantu ibu Petronela  Dan, untuk bisa mendonasikan bantuannya dengan cara masing-masing.

Bripka Sukiman menambahkan, kondisi rumah nenek Petronela saat ini sudah lumayan bagus. Mereka kini tinggal di rumah permanen dengan ukuran 6x6m².

Rumah tersebut merupakan rumah bantuan pemerintah Kabupaten Manggarai Timur melalui pihak kelurahan Riwu Kondo.

Dapat Bantuan Dari LSM Insan Bumi Mandiri.

Upaya Bripka Sukiman membuahkan hasil. Ketika informasi keberadaan Nenek Petronela sampai ke telinga relawan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Insan Bumi Mandiri (IMB).

Relawan IMB Abdul Razak kemudian menemui keluarga nenek Petronela. Didampingi Bripka Sukiman, Abdul Razak membawa bantuan untuk keluarga tersebut, Sabtu, (13/3).

Melihat kondisi Nenek Petronela bersama keluarganya, Abdul Razak sangat prihatin. Ia menjelaskan kedatangannya bersama teman-teman relawan kemanusiaan IBM sebetulnya terjadi berkat informasi yang disampaikan oleh Bripka Sukiman.

“Bripka Sukiman yang menyampaikan informasi kepada kami perihal kondisi Nenek Petronela bersama keluarganya,” ujarnya ketika dikonfirmasi, Selasa (16/3).

Setelah mendengar cerita tentang Nenek Petronela, lanjut Abdul, teman-teman relawan IBM kemudian berkumpul. “Relawan IBM sepakat menemui keluarga ini dan mengatar bantuan sembako,” katanya.

Abdul berharap, bantuan dari teman-teman relawan IBM bisa sedikit meringankan beban keluarga nenek. “Kami berharap semakin banyak orang yang akan membantu keluarga ini,” harap Abdul.

Terkait kondisi nenek Petronela, Abdul mengaku sangat prihatin. Ia menjelaskan, segala upaya akan dilakukan untuk bisa membantu nenek Petronela. Kondisi nenek Petronela sangat memprihatinkan. Nenek Petronela harus segera mendapat perawatan medis.

“Kondisi ekonomi menjadi kendala nenek Petronela tidak bisa ke rumah sakit. Namun dengan kartu BPJS yang dimilikinya. Nenek ini bisa mendapat perawatan di rumah sakit,” tutupnya.

Kondisi Nenek Petronela bersama suaminya sangat memprihatinkan. Nenek Petronela menderita  kanker kulit,sedangkan suaminya Yohanes Amis menderita asma dan gangguan paru-paru.

Kondisi keduanya, semakin hari semakin memprihatinkan. Nenek Petronela hanya bisa pasrah kepada Tuhan dan orang yang peduli dengan keadaannya.

Belasan tahun nenek Petronela bergulat dengan sakit yang menggerogotinya. Kanker kulit yang menyerang nenek Petronela semakin hari semakin membesar. Tubuh nenek 71 tahun itu pun semakin hari-semakin kurus. (Yos Syukur)

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x